Wednesday, July 22, 2015

MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG ( idaman semua orang )..


Kawanku di Jakarta hijrahnya gak tanggung-tanggung, rumahnya yang masih KPR dijual, Honda Jazz putih yang dulu perlente dipakainya pun dijual. Sekarang tinggal di rumah kontrakan, memulai bisnis baru yang sangat berbeda dengan bisnisnya yang dulu.
"Sap, ketika aku menjual semua asetku dan hutangku lunas, ada perasaan plong di hati yang tidak ternilai, bangun pagi rasanya bebasssss... Tak ada sedikitpun mikiran cicilan ini itu lagi. Sebulan kalo dapat uang 20jt, duitnya ya utuh, kebutuhan keluarga paling 5 juta dah cukup.. Gak ada lagi kertas-kertas tagihan dengan nominal dan beban bunga yang bikin nyesek! Dan Allah tidak pernah ingkar janji.. Aku bisa memulai bisnis lagi, bangkit lagi, tanpa harus hutang disana-sini"
Senyumnya begitu lepas.. Tanpa beban.
Kawanku lainnya di Jogja, pengusaha advertising memilih tak pernah tanda tangan apapun dengan surat hutang. Mobil sudah ada dari kantor untuk operasional, wira wiri dia masih setia naik motor, kalo ku goda "wis dadi boss mbok numpak mobil Mas"
jawabnya cukup ini: "ah Valentino Rossi yang kaya raya aja naik motor kok"
Penghasilannya sebagai pemilik bisnis, penulis buku, dan inspirator di berbagai seminar tentu gampang kalo untuk datang ke dealer, tanda tangan surat hutang, DP 30% dan langsung bawa pulang Innova pun bisa. Tapi itu tidak dilakukannya.. Tetap naik motor, tapi kemarin beli iPhone 6plus harga 14juta pun cash, beli MacBook puluhan juta pun cash, iPad malah ada yang ngasih.
"Mas aku mau beli rumah nih, tapi cash gak mau hutang.. Sekarang terus ngumpulin uang, ketemu yang cocok bayar.."
"Enak lho gak punya hutang, sholat juga tenang, gak kemrungsung, naik motor juga woles aja tuh.. Gak takut dikuntit debt colector, di rumah juga santai gak ada penagih hutang gedor-gedor rumah"
Mmmm.. Gitu yaa
Ada lagi anak muda yang baru kukenal di Jogja, bisnisnya baru dua tahun tapi tumbuh luar biasa, bangkrut di bisnis jualan jus usai jadi sarjana, sempat galau lalu bangkit dengan bisnis ayam gepreknya. Join dengan kawannya, kerja bareng-bareng memulai usaha, fokus, tekun, gak neko-neko.. Sekarang sehari omzetnya tembus 13-15juta. Kutanya langsung isi dapurnya, dengan omzet segitu sebulan dapat profit bersih berapa?
"Alhamdulillah mas, bulan kemarin bersih dapat 97juta"
Wow!!!
"Kalian punya hutang di bank?" Tanyaku
"Sejak awal bisnis kami tidak pernah berhutang, setiap ada untung kami gak ambil, diputer terus, digulung terus, puter lagi, sampai sekarang punya 3 cabang. Kami ingin fokus di bisnis mas, bukan di hutang..."
Anak muda dengan profit nyaris 100jt sebulan itu tetap naik motor ketika berlalu dari hadapanku..
Wahai.. Wahai.. Wahai dirimu yang masih berprinsip hutang itu mulia, numpuk hutang disana-sini, bangga banget dengan aset hutangan yang dipamerkan di semua sosmed, agar dapat label "sudah saksesss!!" dari kawan dan orang sekitar, inget kalo engkau tidak mampu membayar akan masuk kategori gharim.. Layak dan berhak dizakati.. Mendapat bagian 2,5% dari harta orang lain seperti fakir miskin.

Dan aku jadi saksi, ketika berkeliling kota-kota bertemu dengan banyak pengusaha yang dulu bangga dengan aset-asetnya, sekarang datang dengan wajah murung dalam jeratan hutang tak berkesudahan..
Masih mau terus hidup dalam kepalsuan?
 (sebuah inspirasi yang ditulis oleh  mas agiel masdanis panca)

Sebuah renungan ....
Seringkali diriku terjebak dalam budaya "pamer" meski dalam kenyataannya aku harus memaksakan diri untuk dianggap mampu dan berhasil tentu saja dengan memperlihatkan "segala kekayaanku" dan betapa susahnya keluar dari "zona pamer" ini, karena ketika aku berusaha menjadi "manusia biasa saja" butuh muka tebal dan telinga tuli serta kemantapan dalam hati untuk siap mendengarkan bisikan-bisikan ... dulu kan dia punya ini .. punya itu ... pakai ini ... pakai itu... sekarang koq "cuma" ....

"Kadang lebih nyaman tampak sebagai manusia biasa saja namun dengan nilai kehidupan dan kenyamanan yang dipenuhi rasa syukur ....semoga"

Friday, July 10, 2015

Budaya Te Ha Er


Waktu semakin mendekati hari "Lebaran", adalah masa-masa yang kunantikan, karena menyambut "Lebaran" identik dengan "akan" diberikannya tunjangan hari raya  alias THR. 
Meskipun seringkali penuh misteri dalam setiap detiknya, antara "ada dan tiada", aku tetap berharap kalau memang "rejeki tak akan kemana".

Aku sendiri tidak tahu sejak kapan "budaya" pemberian "THR" dimulai, namun bagi perusahaan sendiri, "budaya" ini merupakan pengeluaran ekstra yang harus disiapkan setiap tahunnya. Bayangkan saja jika setiap hari raya kebesaran agama, perusahaan harus memberikan "THR", berapa besar uang yang harus disiapkan. Namun untungnya, saat ini  "THR" lebih dimaknai akan diberikan pada saat menyambut Hari Idul Fitri. 

Bagi pemberi "THR" mungkin setengah mati mencari tambahan uang karena "budaya" ini biasanya tidak dimasukkan kedalam anggaran pengeluaran rutin. 
Bagi aku yang menerima, biasanya tidak peduli uangnya darimana, yang penting ada pembagian "THR".
Setelah kupikir-pikir, "budaya" ini adalah semacam bentuk penghargaan tambahan yang diberikan oleh perusahaan atas kerja kerasku. Kalau boleh kusebut " budaya terima kasih" yang dipelihara, meskipun sebenarnya "tidak wajibkan" mengucapkan terima kasih?

Nah, penghargaan tambahan tentu saja "harusnya" diberikan kepada mereka yang telah bekerja dengan "luar biasa" memberikan kontribusi kepada perusahaan. 

Bagi aku yang bekerja biasa-biasa saja, apakah juga berhak mendapatkannya? atau cukup ucapan "terima kasih"saja atas perjuangan dalam menyelesaikan pekerjaan demi kemajuan dan kemakmuran seluruh elemen perusahaan. Rasa keadilan kadang diuji untuk bisa menjawab hal ini. 
Sebuah kalimat sederhana, "dirimu itu seperti matahari yang bersinar terang di balik awan gelap", membuatku tergelitik menulis tentang "budaya terima kasih" ini.

Akhirnya, jika nanti "THR" yang diterima oleh karyawan yang telah bekerja "luar biasa" ternyata "lebih kecil" nilainya dibanding mereka yang bekerja biasa-biasa saja. Apakah aku akan menjadi karyawan yang bekerja luar biasa atau cukup biasa-biasa saja?




Friday, July 3, 2015

Harga Yang Dibayar

"Often people who criticize your life are usually the same people that don't know the price you paid to get where you are TODAY"

Tulisan pada profile picture yang dipasang pada aplikasi whatsapp milik teman yang pernah bertemu di Groningen, Belanda ini sempat menggelitik tangan ini untuk menulis kembali. Ya, seringkali aku merasa "paling mengetahui kehidupan"  teman, saudara, rekan kerja bahkan orang lain dan berhak untuk "memasuki" wilayah kehidupan pribadi mereka.

Sadar atau tak sadar, ini terjadi  karena diriku, mungkin merasa menjadi "center of the world"atau bahkan ingin menjadi "pahlawan kesiangan" dan "memberikan" kewenangan serta kebebasan yang menjadikanku "boleh" untuk mencampuri kehidupan orang lain.

Namun ternyata aku hanya mengetahui sebagian kecil bagian kehidupan seseorang, yaitu kehidupannya yang sekarang, keadaan dimana merupakan kondisi akhir disaat diriku sudah mengenalnya. 
Bukan, sejarah kehidupan yang selalu ku ikuti dan ku rasakan dari semenjak rekaman kenangan dan kehidupan mulai mengisi ingatan dan waktu mereka. 

Kenangan betapa indahnya saat melihat samar cahaya kehidupan serta saat harus menembus kerasnya persaingan untuk memenangkan pertandingan dalam sejarah berulang hidup ini. 

Goresan ingatan akan indahnya rasa yang hanya bisa dirasakan hatinya. Berapa banyak pengorbanan yang aku tak pernah ikut merasakan seperti yang mereka rasakan. Yang akhirnya menjadikan mereka dalam kondisi yang kukenal saat ini.

Masihkah? aku berhak untuk menjadi pahlawan kesiangan yang sok tahu dan dengan mudahnya masuk dalam ranah kehidupan pribadi mereka? saat ku tak pernah tahu, berapa harga yang harus dibayar untuk mencapai kehidupannya sekarang. 

Maukah? kehidupan kita diintervensi oleh orang yang tak pernah tahu bagaimana kita sudah menjalani kehidupan ini.

Tapi, apakah kemudian harus menjadikanku menjadi pribadi yang tak peduli pada orang lain?

.. hanya bisikan hati yang sedikit ragu untuk menjawab pilihan yang ada.


Friday, April 10, 2015

Rejeki Tak Kemana? ......(1)

Beberapa waktu yang lalu kudengar, teman sekantor mengungkapkan "..rejeki nggak usah dikejar, kalau memang rejekinya pasti ..gak kemana". Seringkali kudengar ungkapan ini, dan kadangpula aku nyeletuk ungkapan tersebut.

Rejeki di sini kucoba artikan secara luas adalah segala sesuatu, harapan, anugerah, pengalaman yang dapat diperoleh atau diterima oleh masing-masing diri ini.
Antara pembenaran diri atas kepasrahan diri ini terhadap suatu hasil yang belum dapat dicapai namun bisa pula merupakan ungkapan rasa yang lebih condong kepada rasa putus asa terhadap hasil yang diperoleh atau bahkan sebagai "ungkapan rasa ikhlas" setelah membandingkan dengan hasil yang bisa diperoleh oleh orang lain, kadangpula ungkapan tersebut dilontarkan saat ..hasil yang sudah lama diinginkan akhirnya tercapai juga meski kadang "tanpa sengaja" mendapatkannya. 

Ya, tanpa sengaja karena kita tak menyadari bahwa ternyata rejeki yang kita dapatkan tersebut merupakan hasil dari jerih payah dan kerja keras kita sendiri dalam waktu yang lama dan harus dibayar untuk mendapatkan "rejeki" tersebut, tentu saja dengan perkenan Yang Maha Kuasa.

Membongkar kenangan, di tahun 2012, saat mendapatkan beasiswa dari kantor untuk melaksanakan tugas belajar yaitu melanjutkan pendidikan pascasarjana di ITB. Pertama, moment ini kuanggap sebagai rejeki. Namun, bila ditimbang dan direnungkan.. ternyata hal ini merupakan hasil dari kerja keras yang sudah kulakukan "aku menganggapnya begitu". Setelah kurang lebih 4 tahun aku kerja, kerja dan kerja. Tak peduli waktu maupun omongan orang-orang, yang penting niatku adalah kerja, profesional. Dan akhirnya, dengan waktu yang diberikanNYA kudapatkan hadiah rejeki tunai ini. Anugerah rejeki ini ternyata tidak berhenti disini, ketika aku mendapatkan kesempatan mengikuti program sandwich ke Austria, tepatnya di Technische Universit├Ąt Wien yang berada di kota Wina/Vienna dan tinggal di sana selama kurang lebih 6 bulan.
Apakah... kalau Rejeki Tak Kemana?